Jumat, 12 Januari 2018

Pemain Sepak Bola Terbaik di dunia

Carles Puyol

Kapten Barcelona Carles Puyol turut mencetak satu gol ketika mengalahkan Real Zaragoza 4-0 pada partai lanjutan La Liga di Nou Camp, Barcelona, 19 November 2011. AFP PHOTO/JOSEP LAGO
Kapten Barcelona Carles Puyol turut mencetak satu gol ketika mengalahkan Real Zaragoza 4-0 pada partai lanjutan La Liga di Nou Camp, Barcelona, 19 November 2011. AFP PHOTO/JOSEP LAGO
Mengingat fakta Carles Puyol menghabiskan seluruh karier profesionalnya di Barcelona, jelas mantan kapten Barcelona itu pantas berada di posisi tiga besar pemain yang memiliki penampilan paling banyak untuk klub Catalunya itu.
Pemain bertahan berambut keriting itu tidak pernah benar-benar mendapatkan pujian sebagai pemain tim utama Barcelona. Namun, pada saat ia mengakhiri kariernya di Barcelona yang juga merupakan akhir dari karier sepak bolanya, ia pensiun sebagai seorang legenda Barcelona.
Puyol akhirnya tidak hanya menjadi salah satu pemain bertahan terhebat yang pernah dimiliki Barcelona, tetapi juga dalam sejarah dunia sepak bola.
Bek yang juga sempat mejuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 itu tercatat memenangi 20 trofi bersama Barcelona dan tampil 592 kali bersama Barcelona dengan 18 gol.


Paolo Maldini

A.C. Milan's defender Paolo Maldini controls the ball during AC Milan vs Genoa, Italian serie A football match at San Siro stadium in Milan, 27 January 2008. AFP PHOTO / ALBERTO PIZZOLI
A.C. Milan's defender Paolo Maldini controls the ball during AC Milan vs Genoa, Italian serie A football match at San Siro stadium in Milan, 27 January 2008. AFP PHOTO / ALBERTO PIZZOLI
Satu lagi pemain bertahan yang juga memiliki loyalitas tinggi terhadap klub yang dibelanya. Paolo Maldini jadi satu di antara banyak legenda AC Milan, dan ia adalah pemain yang sangat loyal bersama Rossoneri sepanjang kariernya.
Legenda sepak bola Italia itu berbakat dan memiliki kemampuan bermain luar biasa. Ia bisa tampil sebagai bek tengah maupun bek kiri tanpa ada masalah. Untuk hal yang satu ini, Maldini contoh yang sangat berbeda dengan bek tengah tipikal pada umumnya, yang mencoba untuk menjadi bek kiri.
Kebanyakan bek tengah yang berpindah posisi sebagai bek kiri akan membuat intensitas serangan dari sayap kiri akan hilang. Namun, berbeda dengan Maldini yang tak pernah ada masalah karena memiliki kemampuan bertahan dan menyerang yang sama bagusnya.
Maldini menghabiskan seluruh kariernya bersama Rossoneri karena keluarganya, mulai kakek buyut adalah penggemar AC Milan. Urusan keluarga ini diyakini menjadi menjadi salah satu faktor kuat yang membuatnya bertahan bersama Rossoneri selama kariernya.
Maldini mencatat rekor bermain bersama AC Milan sebanyak 902 pertandingan dan mencetak 33 gol untuk Rossoneri. Pada akhir kariernya, Maldini mencatat telah meraih 23 gelar juara, lima di antaranya adalah trofi Liga Champions.


Paul Scholes

Manchester United's Paul Scholes celebrates beating Liverpool goalkeeper Jose Reina and defender Sami Hyyppia to score during the match at Old Trafford, Manchester, England, 22 October 2006. AFP PHOTO/ANDREW YATES
Manchester United's Paul Scholes celebrates beating Liverpool goalkeeper Jose Reina and defender Sami Hyyppia to score during the match at Old Trafford, Manchester, England, 22 October 2006. AFP PHOTO/ANDREW YATES
Satu di antara banyak pemain sepak bola yang memiliki visi bermain sepak bola luar biasa di atas lapangan hijau. Paul Scholes memiliki umpan yang selalu akurat dan tembakan jarak jauh yang selalu mengoyak jala gawang tim lawan.
Siapa pun penggemar Manchester United, pasti benar-benar menyukai pemain satu ini. Mungkin bisa dikatakan Paul Scholes adalah Xavi untuk Barcelona. Namun, apakah seorang Paul Scholes memiliki kemampuan setara Xavi, itu selalu menajdi topik yang diperdebatkan.
Paul Scholes bermain sebanyak 718 pertandingan bersama The Red Devils selama kariernya. Pemain yang sempat kembali tampil bersama Manchester United setelah mengumumkan gantung sepatu itu tercatat mencetak 155 gol.
Bersama Manchester United, Paul Scholes meraih 25 gelar juara dalam rentang dua dekade.


Francesco Totti

Kapten AS Roma, Francesco Totti dilempar ke udara usai pertandingan Liga Italia Serie A melawan Genoa di Stadion Olimpico, Minggu (28/5). Totti yang telah berusia 40 menyatakan gantung sepatu setelah musim ini berakhir (AP Photo/Alessandra Tarantino)
Kapten AS Roma, Francesco Totti dilempar ke udara usai pertandingan Liga Italia Serie A melawan Genoa di Stadion Olimpico, Minggu (28/5). Totti yang telah berusia 40 menyatakan gantung sepatu setelah musim ini berakhir (AP Photo/Alessandra Tarantino)
Julukannya adalah Pangeran Roma. Pemain yang membela AS Roma sepanjang kariernya itu berbeda dengan kebanyakan one man club lainnya. Perbedaan tersebut ada dalam daftar trofi yang pernah diraih Francesco Totti bersama AS Roma.
Jika kebanyakan pemain dengan status one man club memiliki setidaknya ada 20 trofi dalam karier mereka bersama satu klub kesayangan, tidak demikian dengan Totti. Namun, itulah yang membuatnya spesial di antara pemain lain yang punya loyalitas sama.
Bersama AS Roma, pemain legendaris Italia ini hanya pernah meraih lima trofi juara bersama klub ibu kota itu. Namun, minim prestasi bukan masalah karena cinta dan rasa hormat yang didapatnya untuk loyalitas itu tak terbatas oleh angka-angka.
Totti bisa saja dengan mudah pergi ke klub lain dan mendapat prestasi yang lebih cemerlang. Namun, ia memilih untuk tetap bersama rasa cinta mengejar kemenangan dan mengalami kekalahan bersama AS Roma dan hanya bersama Giallorossi.
Hasil dari rasa cintanya terhadap AS Roma adalah penampilan terbanyak dan jumlah gol terbanyak bersama klub ibu kota itu. Dua pencapaian itu, 786 kali bermain dan 307 gol, membuatnya akan menyulitkan pemain AS Roma lainnya untuk bisa mematahkan rekor yang dimilikinya.


Lionel Messi

Ekspresi wajah penyerang Barcelona, Lionel Messi saat laga kontra Juventus, pada pertandingan lanjutan Liga Champions 2017-2018, di Allianz Stadium (22/11/2017). Messi sepakat memerpanjang kontrak bersama Barcelona sampai akhir musim 2020-2021.  (AFP/Fede
Ekspresi wajah penyerang Barcelona, Lionel Messi saat laga kontra Juventus, pada pertandingan lanjutan Liga Champions 2017-2018, di Allianz Stadium (22/11/2017). Messi sepakat memerpanjang kontrak bersama Barcelona sampai akhir musim 2020-2021. (AFP/Fede
Dari semua pemain yang ada sebelumnya, hanya pemain yang satu ini yang masih berstatus pemain aktif. Namun, dengan sebuah kontrak baru yang akan membuatnya tetap bersama Barcelona hingga 2021, saat itu ia akan berusia 34 tahun. Mungkin aman mengatakan Lionel Messi bakal jadi one man club seperti pemain dalam daftar sebelumnya.
Banyak yang meyakini ia mungkin akan mengakhiri kariernya di Newell's Old Boys, klub di mana ia memulai sekolah sepak bolanya. Namun, hanya waktu yang bisa mengungkapkan apakah hal itu yang akan terjadi atau Messi menjadi seorang one man club.
Pada usianya yang kini menginjak 30 tahun, Messi sudah berada di peringkat ketiga dalam hal penampilan terbanyak, hanya berada di belakang Xavi dan Andres Iniesta. Namun, pada 2021 nanti jika ia tetap bugar dan berada di level tertinggi, tentu ia akan menjadi pemegang rekor di Barcelona dan juga memperpanjang rekor gol terbanyak bagi klub Catalunya itu.
Hingga saat ini Lionel Messi sudah meraih 29 trofi juara bersama Barcelona. Sudah dipastikan dengan masih ada empat tahun lagi bersama Blaugrana, jumlah itu akan semakin besar.

Penjaga gawang

Gianluigi Buffon meraih gelar kiper terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Gianluigi Buffon meraih gelar kiper terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Musim lalu, Juventus mencapai babak final tidak lepas dari kepiawaian Gianluigi Buffon di bawah mistar gawang. Kemampuannya mengatur lini pertahanan membuat I Bianconeri menorehkan sembilan clean sheets dari total 12 pertandingan.
UEFA tak ayal menobatkan Gianluigi Buffon sebagai kiper terbaik. Dia sukses menyingkirkan Manuel Neuer (Bayern Munchen), dan Jan Oblak (Atletico Madrid).


Pemain bertahan

Sergio Ramos terpilih sebagai bek terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Sergio Ramos terpilih sebagai bek terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Real Madrid merupakan satu dari sekian tim yang memiliki lini pertahanan terbaik. Performa positif tersebut dinilai berkat kontribusi Sergio Ramos sebagai pemimpin di jantung pertahanan.
Sergio Ramos menunjukkan permainan gemilang dalam 11 penampilannya di Liga Champions musim lalu. Sang kapten pun menyumbangkan satu gol dan tiga assist untuk Real Madrid.
UEFA lantas menobatkan Sergio Ramos sebagai bek terbaik. Dia mengalahkan rekannya Marcelo, dan Leonardo Bonucci (Juventus, sekarang menjadi pemain AC Milan).


Gelandang

Luka Modric mendapat gelar sebagai gelandang terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Luka Modric mendapat gelar sebagai gelandang terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Dari sektor gelandang, UEFA mengumumkan Luka Modric sebagai yang terbaik. Modric dinilai memiliki peran krusial meski hanya mencetak satu assist dari 11 penampilan di Liga Champions musim lalu.
Luka Modric mengungguli perolehan suara kedua rekannya di Real Madrid, antara lain Casemiro dan Toni Kroos. Modric diprediksi akan kembali mengulang pencapaian itu andai terus tampil konsisten sepanjang musim ini.


Penyerang

Cristiano Ronaldo terpilih sebagai penyerang terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Cristiano Ronaldo terpilih sebagai penyerang terbaik Eropa untuk musim 2016-17. (doc. UEFA)
Selain penghargaan pemain terbaik Eropa, Cristiano Ronaldo juga menjadi nomor satu di sektor penyerang. Sang pemain mengalahkan perolehan suara Lionel Messi dan bomber Juventus, Paulo Dybala.
Meski telah berusia 32 tahun, Cristiano Ronaldo mampu menjaga konsistensi permainan. Dia mampu memuncaki daftar pencetak gol Liga Champions musim lalu, dengan koleksi 12 gol, unggul satu dari Lionel Messi.
100. Christian Pulisic (Borussia Dortmund)


Tahun 2017 adalah tahun yang gemilang bagi Christian Pulisic. Kecepatan, kelincahan, dan kegigihannya untuk melesat ke depan dengan bola di kakinya telah mengecoh lawan para lawan juga mengangkat Borussia Dortmund.
Dengan perginya Ousmane Dembele pada musim panas kemarin, remaja Amerika Serikat ini didorong memainkan peran sebagai pemberi suplai bola bagi Pierre-Emerick Aubameyang. Pemain berusia 19 tahun ini menjawab tantangan tersebut. Ia telah menunjukkan kematangan dalam menghadapi tanggung jawab yang lebih besar dan tanpa halangan berarti dan kini menjelma jadi salah satu pemain paling penting dalam timnya.
Kendati musim ini laju BvB sedang naik turun, Pulisic kerap tampil sebagai salah satu pemain terbaik di atas lapangan. Kemauannya yang teguh untuk menang dan menampik ketertinggalan hingga pertandingan benar-benar usai sungguh impresif. Sebagai pemain non-Jerman termuda yang mampu mengemas 50 penampilan Bundesliga, kehadiran Pulisic di tim utama telah menunjukan perbedaan apa yang bisa dihasilkan dari seorang pemain dengan karakter yang tepat. Walau ia dipastikan absen di Piala Dunia di Rusia, nilai jualnya akan tetap melambung di masa mendatang.
Momen paling menonjol: Satu gol dan sebuah asis pada laga pembuka menghadapi Wolfsburg hanyalah dua momen menakjubkan dari performa brilian Pulisic musim ini.
Ditulis oleh: Jonathan Harding
99. Adrien Rabiot (PSG)


Setelah bertahun-tahun mengindikasikan hasrat untuk angkat kaki dari PSG, pada tahun ini Adrien akhirnya berhasil merebut tempat di starting XI tim iniBahkan, saking pesatnya performa Adrien, PSG rela mempersilakan Blaise Matuidi untuk bergabung dengan Juventus pada musim panas lalu dan menaruh keyakinan bahwa Rabiot sudah siap menggantikan posisi kompatriotnya sebagai gelandang tengah-kiri di lini tengah mereka.
Tinggi, elegan, dan begitu bertenaga, Rabiot adalah seorang kreator bergaya tradisional; seorang pemain yang mampu menghadirkan umpan-umpan yang menembus pertahanan lawan dan mampu berlari ke garis depan ketika dibutuhkan. Skill defensifnya dapat diasah dan ia perlu menambah pundi-pundi golnya – tiga gol dalam 27 penampilan Ligue 1 tidak bisa dibilang bagus – namun kini ia telah memperkuat timnas senior Perancis dan tampil baik di pentas Liga Champions.
Di usianya yang baru 22 tahun, ada banyak alasan mengapa ia bisa menjadi pemain yang lebih komplet dalam dua atau tiga musim mendatang.
Momen paling menonjol: Kerja sama yang berkelas kala bersua Toulouse pada Agustus silam menunjukan betapa pemuda ini punya potensi yang besar.
Ditulis oleh: James Eastham
98. Edin Dzeko (Roma)


Sebelum musim lalu, bomber kelahiran Bosnia ini tampak tak cocok di klub ibu kota Italia ini, persis seperti di akhir kariernya bersama Manchester City. Pada musim perdananya bersama Giallorossi, ia hanya membukukan 10 gol dari 39 penampilan, sebuah performa yang mendapat hujan kritik baik dari media serta suporter Roma.
“Saya pasti berbohong seandainya saya mengatakan kepada Anda bahwa saya tak mendengar atau membaca apa yang orang katakan tentang saya,” aku Dzeko baru-baru ini – akan tetapi sepertinya kritikan itu telah memberikan keberuntungan baginya.
Pemain 31 tahun ini lantas hampir selalu mencetak gol setiap kali ia memasuki lapangan dan menorehkan rekor baru klub dalam satu musim dengan menceploskan 39 gol di semua kompetisi dan membuat dirinya menjadi top-skorer Serie A musim lalu. Hingga artikel ini diketik, dirinya sudah mengemas 10 gol – dua di antaranya ia dulang kala berhadapan dengan Chelsea di Liga Champions.
Momen paling menonjol: Merengkuh titel Capocannoniere sebagai top-skorer Italia musim 2016/17.
Ditulis oleh: Adam Digby
97. Samuel Umtiti (Barcelona)


Kedatangan Umtiti pada musim panas 2016 tak begitu menggemparkan, namun mulai memasuki musim 2017, pemain Perancis ini menjadi aset yang berharga bagi Barcelona laiknya Gerard Pique dan Sergio Busquets. Kendati tinggi badannya tak begitu menjulang, pemain 24 tahun ini kompeten dalam bola-bola udara, cergas di sepanjang lebar lapangan dan tangkas dalam duel satu lawan satu.
Apapun rintangannya, Umtiti mampu menjawabnya, sebab bek sentral ini punya skill dan tempramen yang akan menjadi bagian dari rencana jangka panjang Blaugrana. Pemain ini cepat matang semenjak dirinya dipercaya menjadi pemain reguler dalam starting XI salah satu klub terbesar di muka bumi ini. Tahun ini Umtiti naik pangkat dari pemain dengan talenta menjanjikan menjadi bintang papan atas.
Momen paling menonjol: Penampilan mengagumkannya ketika bertemu Valencia pada bulan November tanpa kehadiran Gerard Pique.
DItulis oleh: Simon Harrison ​
96. Roberto Firmino (Liverpool)


Pemain 26 tahun ini merasakan momen emosional pada Agustus lalu ketika Liverpool dipertemukan dengan Hoffenheim pada babak kualifikasi Liga Champions. Melawan bekas klubnya, di mana namanya meroket dan dicintai para fans, bukan perkara mudah bagi pemain Brasil ini. Meski demikian, ia tampil baik di kedua leg, mencetak gol dan memberi umpan pada Emre Can di Anfield, membantu The Reds menang di kedua leg dan mengamankan tempat di babak fase grup.
Seperti yang diketahui suporter Hoffenheim, Firmino adalah tipe pemain yang perannya di lapangan tak mudah untuk didefinisikan, namun ia sering kali melakukan tugasnya dengan baik. Jurgen Klopp lazimnya memainkannya di posisi false nine, dan hasilnya cukup bagus di tahun 2017 ini, terutama di Eropa, di mana ia sudah mencetak enam gol. Ia masih belum cukup konsisten untuk disebut sebagai pemain yang benar-benar bertaraf kelas dunia – namun, kariernya masih panjang.
Momen paling menonjol: Penampilan spektakuler pada kemenangan besar 3-1 atas Arsenal Maret lalu, di mana ia mencetak gol dan memberi asis cantik pada Sadio Mane.
Ditulis oleh: Michael Yokhin


95. Marco Asensio (Real Madrid)



Pada Oktober lalu, Marco Asensio mencetak gol yang begitu indah, dengan memanfaatkan umpan silang Isco kala melawan Eibar. Tekniknya sungguh luar biasa - namun gol itu masih jauh untuk disebut sebagai gol terbaik yang ia cetak selama ia berseragam Real Madrid.
Dengan kelincahan dan tendangannya yang bertenaga, pemain 21 tahun ini menjadi primadona baru di Santiago Bernabeu; semacam pemain anti-Ruud Van Nistelrooy, alias pemain yang jarang mencetak gol namun gol-golnya layak untuk dinantikan.
Beberapa cuplikan momen yang menonjol dari kariernya sejauh ini termasuk dua gol spektakuler ke gawang Barcelona pada Piala Super Spanyol, dwigol melawan Valencia dari luar kotak penalti, dan sepakan keras dari jarak 34 meter ke gawang Las Palmas. Dan itu hanya terhitung sejak musim panas tahun ini. Lihat juga solo run melawan Bayer Muenchen dan sebuah gol di final Liga Champions, dan Anda akan membayangkan bahwa ini mungkin tahun kemunculan seorang kandidat peraih Ballon d’Or di masa depan.
Momen paling menonjol: Mungkin golnya yang menghujam jala Las Palmas atau satu gol cungkil di kandang melawan Barca, yang terjadi dari situasi yang sama sekali tak berbahaya.
Ditulis oleh: Thore Haugstad
94. Javi Martinez (Bayern Munich)



Salah satu pesepak bola yang paling fokus saat ini, Martinez sudah berkali-kali menghadapi cedera dan berganti posisi namun justru hal itu membuatnya menjadi pemain yang lebih kuat. Dari cedera ligamen hingga pundak, karier pemain 29 tahun ini di Bayern Muenchen lebih banyak dihabiskan di ruang perawatan, namun itulah yang membuatnya populer.
Baik itu beroperasi sebagai bek tengah atau sebagai holding midfielder, pemain Spanyol ini punya konsentrasi permainan yang tinggi, jitu memberi operan, dan tangguh dalam duel udara. Bersama Arturo Vidal, ia menjadi petarung utama bagi The Bavarians.
Performanya pada laga tandang melawan Celtic di Liga Champions bisa menjadi contoh sempurna bagaimana ia bermain. Martinez tanpa rasa takut mengorbankan wajahnya untuk memenangkan bola. Meski wajahnya berlumuran darah, pemain Spanyol ini tetap tersenyum – ia mencetak gol penentu kemenangan.
Momen paling menonjol: Walau di hampir sebagian besar pertandingan melawan RB Leipzig pada pekan ke-10, Bayern hanya melawan 10 orang, penampilan Martinez tetaplah atraktif. Ia mengendalikan tempo permainan dan melancarkan asis yang indah untuk memenangi laga.
Ditulis oleh: Jonathan Harding
93. Raphael Varane (Real Madrid)



Ada satu titik dalam karier Varane bersama Real Madrid di mana ia tampaknya tak akan pernah benar-benar mampu menembus posisi utama klub ini. Tapi sekarang, pilar asal Perancis ini sepertinya telah menjadi pemain kunci Los Merengues di masa kini dan masa mendatang. Ia telah mengambil setiap kesempatan yang diberikan padanya dengan baik dan mendapatkan konsistensi permainan yang sebelumnya tak dimilikinya.
Zinedine Zidane jelas merupakan penggemar berat kompatriotnya ini dan terbukti sejak kepergian Pepe, kepercayaan tersebut tidak salah tempat. Varane adalah pemain yang tangguh dan kuat dalam urusan bertahan, namun juga mampu diandalkan ketika tim tengah terancam. Ia juga pemain yang lincah dan elegan, percaya diri ketika memegang bola dan pengoper yang cerdas. Pada akhirnya, Varane mampu tampil sebagai pemain Real Madrid.
Momen paling menonjol: Performa gemilangnya pada Supercopa ketika ia mampu menghalau setiap ancaman yang datang – dan sukses mengawal Luis Suarez.
Ditulis oleh: David Cartlidge
92. Antonio Valencia (Manchester United)



Jika ada yang bilang kepada pria Ekuador ini kalau ia akan menjadi salah satu bek terbaik di Premier League ketika ia bergabung dengan Manchester United dari Wigan pada 2009 silam, ia mungkin saja akan tertawa. Begitu pun para suporter.
Pemain berusia 32 tahun yang mulanya berposisi sebagai winger ini telah berubah sepenuhnya menjadi bek kanan yang berkelas. Di bawah naungan Jose Mourinho, Valencia menjadi bagian yang tak terpisahkan dan selalu mengisi line-up jika dirinya bugar – ia belum pernah melewatkan satu menit pun pertandingan liga musim ini. Bisa diandalkan, berdedikasi, sangat disiplin serta punya kapasitas menyerang yang baik, ia menjadi salah satu pemain terbaik The Red Devils di tahun ini.
Ada kekecewaan bagi dirinya ketika Ekuador kolaps di babak kualifikasi Piala Dunia dan tak berhasil lolos ke Rusia. Namun, dengan kepergian Wayne Rooney musim panas ini, Valencia kini menjadi pemain dengan masa abdi terpanjang kedua bagi klub setelah Michael Carrick, dan masa depannya juga tampak menjanjikan.
Momen paling menonjol: Momen absurd pada bulan Maret ketika Victor Valdes terpeleset dan membuat Valencia menceploskan bola ke gawang yang kosong. Golnya ke gawang Arsenal pada bulan Desember juga luar biasa.
Ditulis oleh: Michael Yokhin
91. Thomas Lemar (Monaco)



Tahun ini adalah tahun ketika Lemar menjadi salah satu talenta sepak bola paling diinginkan di Eropa.
Ia tampil sebagai bintang bagi Monaco yang pada akhirnya menjadi salah satu klub Eropa paling menarik pada pruh pertama tahun ini, dengan secara tak terduga mampu melangkah jauh hingga ke semifinal Liga Champions dan merengkuh titel Ligue 1 musim 2016/17 lewat catatan sembilan gol dan sepuluh asis.
Cedera mengganggu perkembangannya sejak Agustus namun sudah tampak benih-benih performa brilian dari pemain yang dapat beroperasi melebar atau sebagai pemain bernomor 10 ini. Arsenal bahkan menawarnya €90 juta pada Agustus lalu dan ada sedikit keragauan bahwa musim ini akan menjadi musim terakhirnya di kasta elite Perancis seiring klub-klub yang lebih besar mulai menghampirinya.
Momen paling menonjol: Sepak voli kaki kiri yang tampak mustahil dilakukan memberikannya gol pada laga internasional ketika Perancis melawan Belanda Agustus silam.
Ditulis oleh: James Eastham


90. Gianlugi Donnarumma (AC Milan)


Sulit untuk percaya bahwa pemain yang sudah nyaris membukukan 100 penampilan untuk Milan ini baru berusia 18 tahun. Semenjak debutnya pada 2015/16, ia telah menahbiskan dirinya sebagai pewaris tahta Gianluigi Buffon di timnas Italia.
Tentu saja tahun 2017 tak selalu berjalan mulus baginya. Ia sempat gamang sebelum resmi memperpanjang kontrak dengan Rossoneri serta membuat suporter berang lantaran pernah tergoda dengan ide untuk pergi dari klub ini. Ia juga beberapa kali tampak kikuk, contohnya yang paling diingat adalah ketika ia gagal mengantisipasi back-pass yang berujung gol dalam laga melawan Pescara pada April tahun ini.
Terlepas dari semua itu, Donnarumma tetap menjadi bagian tak terpisahkan bagi Milan dan Italia. Usia belianya mungkin membuat sebagian orang menilai ia sebagai bakat yang luar biasa untuk masa depan, namun sesungguhnya Donnarumma telah melampaui status tersebut berkat sederet performa gemilangnya.
Momen paling menonjol: Pada bulan Maret, remaja ini catatkan debut perdananya bagi Azzurri dalam laga persahabatan melawan Belanda. Dengan begitu, ia resmi menyandang status kiper termuda yang bermain sebagai starter bagi negaranya.
Ditulis olehBlair Newman
89. Karim Benzema (Real Madrid)


Jika sedang berada dalam kondisi terbaik, pemain nasional Perancis ini mampu menjalankan roda serangan Real Madrid dan menciptakan ruang bagi Cristiano Ronaldo. Namun, dalam kondisi terburuknya, ia adalah pemain yang pasif dan mandul.
Sialnya, sepanjang tahun ini ia lebih sering menampilkan versi yang kedua. Benzema hanya mengepak 12 gol dari 38 pertandingan La Liga dan Liga Champions dan, ketika hanya segelintir fans yang mengingat catatan apiknya kala Madrid meraih double-winner, penampilannya yang kurang baik ini terbukti harus dibayar mahal Madrid. Untuk urusan asis, ia hanya mencetak enam saja sepanjang tahun ini.
Belum lagi fakta bahwa Alvaro Morata dan Mariano, dua striker yang dijual Madrid musim panas kemarin, rajin mencetak gol di liga lain. Dan meski suporter menyiuli dirinya, Benzema justru tetap mendapat dukungan dari klub, yang pada September lalu memberinya perpanjangan kontrak empat tahun.
Momen paling menonjol: Pada bulan Mei, Benzema mengecoh tiga pemain Atletico Madrid dekat garis lapangan untuk mengkreasi gol tandang krusial pada laga semifinal Liga Champions.
Ditulis olehThore Haugstad
88. Thomas Müller (Bayern Munich)


Boleh jadi tahun ini merupakan tahun paling sulit bagi Thomas Müller sebagai pemain Bayern Munich. Keran gol tak mengucur sederas biasanya, dan label “Space-Investigator” atau dalam bahasa Jerman “Raumdeuter”, tak lagi punya nuansa yang sama seperti yang ia tunjukan setahun sebelumnya – atau semasa manajerial Louis Van Gaal.
Pada hampir semua ajang, Müller tidak terlalu membantu Lewandoski sebagai ujung tombak di klub. Surutnya gol pemain internasional Jerman ini tak sepedih penantian 1.000 menit untuk sebuah gol seperti pada tahun 2016, tapi rasanya tetap saja sakit. Ia hanya menyarangkan empat gol pada paruh kedua musim lalu dan baru mencetak satu gol sejauh musim ini.
Masalah yang menaungi pemain 28 tahun ini bukanlah minimnya kontribusi gol, namun krisis identitas di Bayern. Apa keberadaannya masih penting bagi Muenchen? Akan ada saatnya bagi jawara Bundesliga ini untuk mencari manajer inovatif – tipe seperti Guardiola – dan belum jelas sejauh mana Müller dapat mempertahankan kariernya di level tertinggi ketika hal itu terjadi.
Momen paling menonjol: Absennya Neuer akhir-akhir ini membuat Müller ditunjuk sebagai kapten klub yang tentunya memenuhi ambisi lain dari talenta lokal ini.
Ditulis oleh: Russell Smith
87. Ivan Rakitic (Barcelona)


Sejak kepindahannya dari Sevilla ke Barcelona pada 2014, Ivan Rakitic telah menerima kenyataan bahwa ia bukan lagi pemain yang sendirian mampu mengantarkan timnya meraih kemenangan, akan tetapi kerja keras dan determinasi serupa yang ia kerahkan kala menjadi kapten di tim Andalusia itu telah berkontribusi pada kerja keras yang ia berikan di Camp Nou.
Meski sering diminta berlarian di lini tengah, Rakitic sejatinya punya otak sepak bola yang dengan cerdasnya mampu menemukan ruang serta memiliki kemampuan teknis yang membantu Barca mempertahankan penguasaan bola atau membiarkan full-back agresif Blaugrana bermain melebar. Sejak Ernesto Valverde mengambil alih kemudi, pemain internasional Kroasia ini telah menjelma menjadi jenderal yang diandalkan oleh raksasa Katalunya ini di sektor lapangan tengah.
Momen paling menonjol: Selalu bermain dalam 20 laga Barca musim ini menjadikannya sebagai pemain kedua di klub yang mencatatkan rekor tersebut dalam lima tahun terakhir.
Ditulis oleh: Simon Harrison
86. Cesc Fabregas (Chelsea)


Fabregas adalah jawara Premier League pada Mei silam dan merupakan pemain paling kreatif Chelsea selama musim perdana kepelatihan Antonio Conte, meski ia bermain sebagai starter hanya dalam sepertiga jumlah laga yang dimainkan Chelsea. Fabregas menghabiskan nyaris separuh musim itu dengan masuk ke lapangan dari bangku cadangan atau sebagai ban serep dari duet N’Golo Kante dan Nemanja Matic yang sangat sukses.
Enam bulan berselang dan dengan menyeberangnya Matic ke Manchester Merah (serta Tiemoue Bakayoko yang masih belum menunjukan kualitasnya di kedua sisi lapangan), Fabregas kembali menjadi pemain penting seperti sebelumnya. Dulu ia tak pernah menjadi pemain yang sangat cepat dan sangat ngotot seperti sekarang. Dan lebih dari itu, ia mempertahankan kemampuan umpan jarak jauhnya yang jitu dan masih merepotkan para bek di seantero Inggris.
Momen paling menonjol: Titel Premier League keduanya pada bulan Mei. Sosok yang kerap terpinggirkan namun sangat tak ternilai keberadaannya: 12 asisnya membuat ia sejauh ini menjadi pemain cadangan paling bernilai di liga.
Ditulis olehSeb Stafford-Bloor
85. Filipe Luis (Atletico Madrid)



Bek kiri asal Brasil ini tak diragukan lagi merupakan salah satu bagian paling penting di Atletico Madrid era Diego Simeone dengan kehadirannya yang sangat konsisten selama beberapa tahun ke belakang. Ia menjalani musim lalu dengan hebat dan kini dirinya menjadi pemain yang semakin penting dalam skema permainan Atletico Madrid.
Kecepatan larinya hingga ke area tengah dan keterlibatannya dalam penyerangan lah yang membuat kehadiran Filipe menjadi sanga vital. Kemampuan olah bolanya setara dengan seorang gelandang dan ia pun punya kualitas dalam menyerang yang sangat membantu Antoine Griezman dan rekan lain di depan.
Tanpa kehadiran seorang gelandang kreatif yang natural, penting bagi Atleti untuk memanfaatkan peran lainnya demi menciptakan peluang dan Filipe piawai menggiring bola dan mendongkrak performa tim Simeone di lapangan.
Momen paling menonjol: Satu gol dan satu asis melawan Osasuna, sesuai pengakuan Filipe sendiri, adalah performa terbaiknya selama berseragam Atletico.
Ditulis olehDavid Cartlidge
84. Samir Handanovic (Inter Milan)



Handanovic merupakan penjaga gawang paling konsisten di Serie A di belakang Buffon selama beberapa tahun terakhir. Kehadiran kiper Inter Milan ini begitu menonjol di timnya dan, di usianya yang 33 tahun, penampilannya tampak semakin membaik seiring bergantinya musim.
Di musim 2017/18 ini, ia punya keahlian lain. Penunjukan Luciano Spalletti sebagai pelatih kepala membuat Nerazzurri mengimplementasikan gaya membangun permainan dari garis pertahanan sendiri. Meski ia bukanlah Manuel Neuer, Handanovic menunjukan ketenangan dalam menguasai bola untuk membantu timnya mengadopsi pola permainan yang baru.
Kiper Slovenia ini pensiun dari sepak bola internasional pada 2015 ketika Jan Oblak lebih diproritaskan sebagai penjaga gawang negeri itu. Namun, sejak saat itu ia malah semakin tangguh dan baru-baru ini kerja kerasnya diganjar perpanjangan kontrak yang membuat dirinya akan bertahan di Inter hingga 2021.
Momen paling menonjol: Bertandang ke markas rival, Napoli, Handanovic memamerkan penyelematan ganda yang mengagumkan, menghalau usaha Jose Callejon sebelum ia menghalau sepakan Dries Mertens dengan kakinya. David de Gea pasti bangga melihat reaksinya yang cepat itu.
Ditulis olehBlair Newman
83. Dele Alli (Tottenham Hotspur)



Pemain Tottnham yang ahli melakukan nutmeg ini menjalani musim yang agak aneh sejauh ini, dan hanya beberapa kali memperlihatkan performa brilian yang mengingatkan kita bahwa Alli masih merupakan pemain yang paling enerjik, berani, dan punya teknik yang mumpuni di negaranya – atau dengan kata lain, pemain Inggris yang tak nampak seperti pemain Inggris.
Meski pada awal musim dingin ini penampilan timnya tak begitu memuaskan, namun selebihnya tahun ini performanya menunjukkan peningkatan dalam permainannya, yang diwarnai dengan catatan tujuh gol dari empat laga yang dilengkapi dengan 18 gol lainnya, termasuk gol-gol dalam kemenangan melawan Liverpool, Chelsea, Arsenal dan, tentu saja, Real Madrid.
Ia juga menambahkan kualitas barunya sebagai gelandang dengan posisi yang lebih dalam – melengkapi kualitasnya sebagai “playmaker yang lebih mirip seperti penyerang lubang” yang selama ini kita kenal dari dirinya.
Momen paling menonjol: Penampilan fantastisnya ketika Galacticos bertamu ke kandang Tottenham. Ini bukan soal dua golnya (yang seharusnya bisa menjadi hat-trick) namun caranya bergerak, keterampilannya, dan daya pikirnya yang tanggap yang benar-benar mengobrak-abrik sang jawara bertahan Eropa ini. Meski di atas lapangan ada nama-nama seperti Luka Modric, Toni Kroos, dan Isco, tapi Alli lah yang menguasai permainan: entah itu dalam pola permainan di lapangan maupun di papan skornya.
Ditulis olehAlex Hess
82. Nabil Fekir (Lyon)



Fekir telah sepenuhnya pulih dari cedera lutut yang memaksanya absen di sepanjang musim 2015/16, dan kini ia mulai mengasah talentanya yang mungkin saja menjadikannya sebagai salah satu pesepak bola terbaik di dunia.
Benar, sebesar itulah bakat yang ia miliki – dan ia menunjukannya nyaris setiap pekan untuk Lyon saat ini. Setelah musim lalu bermain dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih, kini pemain 24 tahun tersebut tampil dengan kecepatan tinggi tanpa rasa takut dan tampaknya ia semakin matang setelah ditunjuk sebagai kapten tim.
Fekir, pendribel tangguh yang menjelajah hampir setiap sudut lapangan ini, sudah menorehkan dua digit gol di Ligue 1 musim ini. Jika terus seperti ini, tentunya ia akan menjadi salah satu pemain paling diminati di daratan Eropa dalam bursa transfer musim panas berikutnya.
Momen paling menonjol: Tendangannya kaki kanannya (itu bukanlah kaki andalannya, kawan) dari area lapangan timnya ke gawang Bordeaux pada Agustus kemarin sungguh luar biasa.
Ditulis olehJames Eastham
81. Alexandre Lacazette (Arsenal)



Adalah hal yang sulit bagi pemain berusia 26 tahun ini untuk meninggalkan Lyon yang dicintainya – dan ia bertahan di klub ini lebih lama daripada yang diperkirakan orang-orang – tetapi pada akhirnya, tak ada pilihan lain selain melangkah maju untuk kariernya.
Striker yang satu ini finis di posisi kedua dalam daftar top skorer Ligue 1 di belakang Edinson Cavani dengan 28 gol, dan kemudian menjadi pembelian termahal Arsenal di sepanjang sejarah setelah Arsene Wenger setuju membayar €53 juta untuk dirinya.
Dalam waktu cepat, Lacazette langsung membuktikan kapasitasnya: ia mencetak gol dua menit setelah menjalani debutnya di Premier League dalam kemenangan 4-3 atas Leicester City, dan menikmati kariernya di Inggris sejauh ini dengan sangat baik, dengan tujuh gol dalam 14 pertandingan pertamanya dan memberikan kontribusi di luar mencetak gol juga.
Mampu bermain sebagai pemain no. 9 murni meski tak terlalu tinggi, penyerang asal Perancis ini memiliki bakat yang besar, dan pada akhirnya mampu menembus tim senior Perancis, setelah menjadi starter di babak kualifikasi Piala Dunia yang lalu.
Momen paling menonjol: Mencetak dua gol dalam laga perpisahannya dengan Lyon, yang berakhir dengan timnya kebobolan gol di akhir pertandingan untuk mencatatkan hasil imbang 3-3 melawan Nice.
Ditulis olehMichael Yokhin
80. Niklas Sule (Bayern Munich)



Sejak awal potensi Niklas Sule sudah terlihat dan itu semua berkat penampilan hebatnya di bawah arahan Julian Nagelsmann saat di Hoffenheim: kemampuannya untuk dengan cepat membaca permainan dan ketangguhan fisiknya membuat ia sukses di Bundesliga.
Usai membantu Hoffenheim lolos ke Liga Champions dan menorehkan pencapaian penampilan ke-100 di Bundesliga, bek kelahiran Frankfurt ini memperoleh kontrak lima tahun di Bayern Muenchen.
Dalam enam bulan, pemain berusia 22 tahun ini menjadi pemain yang diandalkan baik itu oleh Carlo Ancelotti atau Jupp Heynckes. Memang, bek sentral ini mendapat keuntungan dari cederanya beberapa pemain kunci, namun sejak diberi kesempatan, ia secara meyakinkan memantapkan dirinya sebagai pemain yang berpotensi menjadi kapten di masa mendatang.
Ia juga telah mengemas delapan penampilan internasional, termasuk di di Piala Konfederasi di Rusia.
Momen paling menonjol: Estimasi nilai transfer £20 jutanya ke Bayern Muenchen hanyalah hadiah untuk performa apiknya di Hoffenheim, tim kejutan di Bundesliga tahun lalu.
Ditulis oleh: Russell Smith
79. Koke (Atletico Madrid)



Setelah Koke cedera pada Oktober lalu, hasil-hasil yang didapat Atletico Madrid setelahnya adalah imbang 0-0, 1-0, 1-1, 1-1, 1-1, 1-0.
Kesuburan Atleti seperti menghilang ketika playmaker utama mereka cedera, membuat posisi mereka di La Liga terancam dan mereka tersingkir dari Liga Champions. Mereka baru bisa mencetak lebih dari satu gol lagi saat mengalahkan Roma 2-0 pada bulan November, kemudian mereka juga menghancurkan Levante 5-0. Ketika itu, pemain andalan mereka asal Spanyol ini telah kembali.
Pekerja keras dan kreatif, pemain berusia 25 tahun ini adalah pusat lini tengah timnya, dan berperan sebagai pemberi umpan-umpan berbahaya yang bisa diteruskan oleh para penyerang Atleti, baik lewat bola mendatar maupun bola lambung.
Atleti kini bisa mencetak gol dengan lebih lancar dan Antoine Griezmann, yang tak mencetak gol sama sekali ketika Koke harus absen, telah mencetak empat gol dalam tiga pertandingan. Silakan ambil kesimpulannya sendiri.
Momen paling menonjol: Pada bulan Agustus, Koke mencetak gol tendangan keras nan indah dan tendangan salto untuk membantu Atleti menenggelamkan Las Palmas dan membantu mereka merebut tiga poin pertama mereka musim ini.
Ditulis oleh: Thore Haugstad
78. Giorgio Chiellini (Juventus)



Melihat kegemarannya bermain dengan kepala diperban dan seragam berlumur darah, mungkin tidak mengejutkan jika Chiellini akan menjadi pemain terakhir dari trio lini pertahanan terhebat Juventus yang akan masih bertahan di Turin. Andrea Barzagli sudah hampir pensiun dan Leonardo Bonucci telah kabur ke Milan, tetapi Sang King Kong bertahan.
Penurunan posisinya dalam daftar ini menunjukkan bahwa, meski ia tak lagi memiliki kualitas dinamis yang pernah ia miliki,  hanya sedikit penyerang yang bisa menghadapi pemain berusia 33 tahun ini dengan tenang ketika pertandingan dimulai.
Chiellini berperan penting dalam perjalanan Juve merebut dua gelar domestik lagi di Italia, tetapi ia mungkin akan ingin melupakan soal final Liga Champions – di mana ia meninggalkan Cristiano Ronaldo tanpa penjagaan, tak hanya sekali, tapi dua kali – sesegera mungkin.
Musim ini, Bianconeri kebobolan lebih banyak daripada biasanya – tetapi mereka masih berada di jalur yang tepat untuk juara dan bek tangguh mereka ini sepertinya akan kembali menemukan performa terbaiknya.
Momen paling menonjol: Menjadi kapten ketika Gigi Buffon dicadangkan, Chiellini mendapatkan kesempatan mengangkat trofi Coppa Italia setelah kemenangan timnya atas Lazio di akhir musim lalu.
Ditulis olehAdam Digby
77. Arturo Vidal (Bayern Munich)



Arturo Vidal tak pernah benar-benar mengalami penurunan performa – tetapi dilihat dari standar personalnya, 12 bulan terakhir tak terlalu berwarna bagi kariernya dibanding biasanya.
Bundesliga sudah menjadi formalitas semata bagi pemain Cile karismatik dan timnya, Bayern: ia mungkin lebih menonjol berkat performa hebatnya di Liga Champions saat melawan Arsenal dan Real Madrid.
Meski performa Bayern juga menurun, jumlah menit bermain Vidal yang begitu besar akhirnya malah mempengaruhinya. Kembali bermain di turnamen musim panas bersama timnasnya, di mana ia tampil dalam 11 penampilan untuk La Roja, ternyata terlalu banyak untuknya dan membuat performanya menurun.
Namun di bawah asuhan Jupp Heynckes, pemain Cile ini kembali menemukan ritme permainannya, dan baru-baru ini mencetak gol dalam tiga pertandingan beruntun di Bundesliga ke gawang Augsburg, Monchengladbach, dan Hannover.
Momen paling menonjol: Vidal memimpin Cile kala timnya lolos hingga ke final Piala Konfederasi, namun kalah dari Jerman di final.
Ditulis oleh: Russell Smith
76. Thiago Silva (PSG)



Ia kini di musim keenamnya di PSG, tetapi Silva harus menghadapi kritikan tahun ini – bek asal Brasil ini disalahkan sebagian orang atas kekalahan telak 6-1 PSG dari Barcelona di Liga Champions pada musim semi tahun ini.
Betul, ia memang tak pernah terlihat semenakjubkan seperti saat membela Milan beberapa tahun yang lalu, atau seperti di awal kariernya di PSG, tetapi di usianya yang 33 tahun, ia masih punya kemampuan yang bisa ditawarkan bagi PSG. Bahwa PSG tidak mencari bek tengah baru pada bursa transfer musim panas lalu menunjukkan bahwa para petinggi klub masih mempercayainya dan mengandalkannya.
Selain itu, rasa lapar Silva akan gelar juara juga masih kuat: ia terus didorong oleh kemungkinan untuk menjadi kapten pertama PSG sepanjang masa yang bisa mengangkat gelar juara Liga Champions.
Momen paling menonjol: Performa briliannya membawa PSG melaju mulus di babak grup Liga Champions musim ini.
Ditulis olehJames Eastham


75. Raheem Sterling (Manchester City)


Tidak ada pemain lain yang lebih diuntungkan dengan kedatangan Pep Guardiola di Manchester City daripada Sterling. Ia, seperti para pemain lain di sekelilingnya, sering tampil tak konsisten di sepanjang tahun 2016 dan menunjukkan keraguannya di depan gawang yang membuat kontribusinya terlihat buruk.
Namun sekarang segalanya berubah: per akhir November 2017, ia sudah menyamai jumlah gol di liga terbaik dalam kariernya (sembilan gol) dan mencetak gol kemenangan beruntun dalam laga melawan Feyenoord, Huddersfield, dan Southampton.Tetapi Sterling semestinya tak dinilai hanya dari statistiknya yang cemerlang saja. Ia menjadi sangat intuitif di dalam kotak penalti dan telah membangun kebiasaan untuk tiba di tempat yang tepat di waktu yang tepat – dan seringkali melakukannya di momen-momen krusial di pertandingan yang sulit.
Sterling bukan lagi pemain yang hanya mengandalkan kecepatan dan skill individunya, tetapi menjadi seorang pemain yang dewasa secara taktik dan memiliki pemahaman yang bagus akan target dan tujuan manajernya.
Momen paling menonjol: Rangkaian performa apik di bulan November itu. Gol-gol yang terjadi memang berkat lutut, tulang kering, dan dadanya, tetapi semuanya krusial dan, yang paling penting, membuatnya memiliki status yang semakin baik di dalam tim yang penuh bintang ini.
Ditulis olehSeb Stafford-Bloor
74. Emil Forsberg (RB Leipzig)


Bisa dibilang tahun 2017 ini merupakan tahun ketika Emil Forsberg menjadi pemain top di Eropa. Dengan RB Leipzig menekan Bayern Munich secara ketat musim lalu, pemain asal Swedia ini jelas menjadi sorotan tersendiri.
Kualitas individunya, ketenangannya, dan gol-golnya menjadi katalis bagi tim asuhan Ralph Hasenhuttl ini untuk bergabung dengan kompetisi elite klub-klub top Eropa. Setelah sempat keluar dari tim, Forsberg kembali dengan memberikan 13 asis di Bundesliga di paruh pertama tahun 2017 ini.
Dengan klub Jerman timur ini sekarang harus berkompetisi di tiga kompetisi berbeda musim ini, termasuk Liga Champions, Forsberg belum menemukan konsistensi yang sama seperti yang ia berikan musim lalu. Pressing Leipzig tak terlalu intens lagi untuk menghemat energi mereka, tetapi ada beberapa momen brilian yang ditunjukkan sang striker yang membuktikan bahwa kehebatannya di musim 2016-17 lalu bukanlah kebetulan.
Momen paling menonjol: Ada beberapa penampilan luar biasa dari Forsberg, termasuk dalam kekalahan 5-4 dari Bayern. Tetapi tak ada yang lebih memuaskan daripada ketika Swedia menang dalam dua leg atas Italia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2018.
Ditulis oleh: Russell Smith
73. Fernandinho (Manchester City)


Pep Guardiola sangat menyukai pemain berusia 32 tahun ini, tetapi apresiasi sang manajer membuatnya mendapatkan sedikit masalah: pemain serba bisa asal Brasil ini dipindah terus posisinya di lapangan – bahkan sempat mengisi posisi bek kanan dan bek kiri juga.
Musim ini, dengan rencana taktik yang lebih konsisten, Fernandinho hanya perlu melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan: sebagai holding midfielder tunggal, ia harus melindungi lini pertahanan timnya, mendikte tempo permainan, dan memulai penyerangan lewat umpan-umpannya yang pasti.
Bukan hal berlebihan jika Fernandinho di Manchester City diibaratkan seperti Sergio Busquets di tim Barcelona yang fantastis asuhan Guardiola. Menurut Pep sendiri, Fernandinho adalah satu dari tiga pemain top dunia di posisinya. Namun perlu kita nantikan apakah pengakuan tersebut cukup untuk membuatnya mendapatkan posisi di skuat Brasil untuk Piala Dunia tahun depan.
Momen paling menonjol: Mengalahkan N’Golo Kante dalam hal penampilan dan kecerdasan dalam kemenangan 1-0 Manchester City di Chelsea pada September lalu.
Ditulis olehMichael Yokhin
72. Alex Sandro (Juventus)


Berkat musim 2016/17 yang luar biasa, nama Alex Sandro pun dibicarakan sebagai salah satu full-back terbaik dunia. Pemain yang biasa berpatroli di sisi kiri lapangan ini melakukan tugasnya dengan solid dan membuatnya menjadi starter di Juventus dan mendapatkan panggilan ke tim nasional Brasil.
Memiliki dribel dan umpan silang yang cantik dengan stamina yang mumpuni, pemain berusia 26 tahun ini juga serba bisa, dan mampu bermain dalam sistem pertahanan empat atau lima pemain. Performa mengesankannya membuatnya dirumorkan akan pindah ke Chelsea pada musim panas lalu, namun isu tersebut tak menjadi kenyataan.
Penurunan performanya membuat posisinya tergusur Kwadwo Asamoah akhir-akhir ini, dan membuka peluangnya untuk pindah pada Januari mendatang.
Momen paling menonjol: Pemain asal Brasil ini adalah satu dari sedikit pemain yang bisa mengklaim bahwa dirinya sukses ‘mengantongi’ Lionel Messi sehingga sang alien tak bisa berbuat banyak. Kualitasnya dalam bertahan membuat pemain Argentina itu tak banyak mempunyai ruang untuk bergerak, dan membantu Juventus mengalahkan Barcelona 3-0 di leg pertama perempat final Liga Champions musim lalu.
Ditulis olehBlair Newman
71. Hugo Lloris (Tottenham)


Dalam banyak momen, tahun 2017 ini terlihat sulit bagi kiper asal Perancis ini. Kesalahannya yang fatal dalam laga melawan Swedia membuat Perancis kehilangan satu poin di kualifikasi Piala Dunia dan performanya di level klub pun tak terlalu mengesankan.
Meski begitu, Lloris tetap mampu membuat banyak penyelamatan bagus yang bisa ditambahkan dalam video kumpulan penyelamatan pribadinya, dan membuatnya masih dianggap sebagai salah satu yang terbaik di posisinya. Di luar kesalahan-kesalahan tersebut, ia juga masih menjadi aset yang sangat berharga bagi Pochettino dan Tottenham.
Momen paling menonjol: Penyelamatannya yang menggagalkan peluang Karim Benzema di Madrid. Tottenham dibombardir di babak kedua laga itu dan, seperti yang ia lakukan di sepanjang kariernya di London utara, Lloris menghasilkan kemampuan terbaiknya ketika timnya sangat membutuhkannya.
Ditulis olehSeb Stafford-Bloor
70. Sadio Mane (Liverpool)
V

2017 bukanlah tahun yang sempurna untuk bintang Senegal ini. Tahun ini dumulai dengan kekalahan dari Kamerun di perempat final Piala Afrika. Pemain berusia 25 tahun ini kemudian tak bisa tampil di pekan-pekan terakhir musim 2016/17 yang krusial karena cedera lutut, sementara musim baru ini diwarnai kartu merahnya yang terkenal karena mengangkat kaki terlalu tinggi hingga melukai kiper Manchester City, Ederson, saat Liverpool dibantai 5-0.
Meski begitu, Mane juga memberikan kontribusi yang penting untuk klub dan negaranya, dengan kecepatan serta trik-triknya yang menyenangkan untuk dilihat. Senegal lolos ke Piala Dunia kedua mereka di sepanjang sejarah, dan Mane pun menjadi sorotan di pertandingan-pertandingan terbesar di Anfield tahun ini, membuatnya mendapatkan pengakuan dari fans The Reds.
Momen paling menonjol: Mane tampil luar biasa dalam kemenangan di kandang atas Everton dan Arsenal (dua kali), tetapi performa terbaiknya terjadi kala ia mencetak dua gol dalam tiga menit dalam kemenangan 2-0 atas Tottenham di bulan April.Ditulis olehMichael Yokhin
69. David Alaba (Bayern Munich)


Sebagai pemain yang dianggap sebagai bek kiri terbaik di dunia ketika Bayern Munich memenangkan trigelar, David Alaba kesulitan menampilkan performa terbaiknya sejak itu. Kombinasi cedera, posisi baru, dan perubahan posisi pelatih kepala telah membuat perkembangan pemain 25 tahun ini tak sepesat yang diperkirakan orang.
Tetapi ada alasan mengapa pemain Austria ini hampir mencatatkan 300 penampilan untuk Bayern sejauh ini: kemampuannya untuk berlari di pinggir lapangan dan memberikan umpan silang yang bagus masih terus ia perlihatkan, begitu juga dengan kecepatannya dan ancaman dari situasi bola mati.
Kerja samanya dengan Franck Ribery sangat bagus, dan Bayern akan harus berusaha mencari pemain yang tepat pasca era bintang Perancis tersebut jika mereka ingin Alaba kembali ke performa terbaiknya.
Momen paling menonjol: Sejak kembalinya Jupp Heynckes, performa Alaba telah mengalami peningkatan. Melaan Borussia Dortmund di pekan ke-11, ada banyak tanda-tanda bahwa Alaba yang dulu kita tahu akan kembali muncul.
Ditulis olehJonathan Harding
68. Toby Alderweireld (Tottenham)


Mungkin cara termudah untuk menguantifikasi betapa berartinya Alderweireld di tahun 2017 ini adalah dengan melihat kembali apa yang terjadi jika Tottenham tanpa dirinya. Pada akhir 2017, cedera hamstring memaksanya absen dari tim asuhan Mauricio Pochettino ini dan, bisa diduga, pertahanan timnya pun runtuh.
Alderweireld memiliki kualitas teknis yang apik – ia mungkin merupakan bek dengan umpan jauh terbaik di Premier League, dan bagus di udara maupun saat berduel di atas lapangan – tetapi kualitas-kualitasnya yang tak terlihat lah yang membuatnya begitu berharga. Ia adalah seorang pemimpin dan pengatur lini pertahanan timnya. Dua kualitas itu membuatnya menjadi bek tengah terbaik di Inggris saat ini.
Momen paling menonjol: Tampil solid di Bernabeu dalam hasil imbang 1-1 Tottenham melawan Real Madrid. Bermain di antara Jan Vertonghen yang menjadi full-back dan di belakang Harry Winks dan Moussa Sissoko, Alderweireld membuat timnya begitu elastis dan tak bisa dipatahkan.
Ditulis olehSeb Stafford-Bloor
67. Jordi Alba (Barcelona)


Jordi Alba telah menyumbangkan 17 asis di La Liga bagi Barcelona sejak musim 2015/16 dimulai, dengan overlap-nya yang khas dari sisi kiri lapangan menjadi salah satu senjata utama timnya. Meski perubahan pelatih terjadi, pendekatannya ini tak berubah, dan kecepatan serta pemilihan waktu untuk berlari ke depan atau melepaskan umpan menjadi penting selama ini.
Meski tergeser di akhir kepemimpinan Luis Enrique di Camp Nou karena perubahan formasi tim menjadi 3-4-3 yang membuatnya sering duduk di bench, kedatangan Ernesto Valverde dan penjualan Neymar membantu Alba merebut kembali posisi utama di sisi kiri. Kerja samanya dengan Andres Iniesta membentuk kombinasi atletisisme dan trik-trik cerdas.
Momen paling menonjol: Penampilannya melawan Espanyol di bulan September, di mana ia mencetak dua asis dan membuktikan dirinya sebagai pemain penting di bawah Valverde.
Ditulis olehSimon Harrison ​
66. Jan Vertonghen (Tottenham)


Satu tahun terakhir adalah satu tahun untuk berkembang bagi Vertonghen. Secara reputasi, Vertonghen masih kalah dari Arderweireld di Tottenham dan membutuhkan kompatriotnya itu untuk mengeluarkan performa terbaiknya, tetapi di tahun 2017 ini ia jelas telah berkembang menjadi lebih stabil dan tak terlalu impulsif lagi.
12 bulan terakhir juga memperlihatkan kualitas yang dimiliki olehnya. Ia menggiring bola dengan elegan – jelas – tetapi umpan-umpannya lah yang sering menjadi penting; banyak pergerakan serangan Spurs bermula dari kakinya.
Momen paling menonjol: Mencatatkan penampilan ke-97 untuk Belgia di bulan Oktober lalu melawan Siprus dan menjadi pemain dengan rekor penampilan terbanyak untuk negaranya. Kini ia telah mencatatkan 98 penampilan; dan penampilan ke-100-nya jelas akan terjadi pada awal tahun depan.
Ditulis olehSeb Stafford-Bloor
65. Leroy Sane (Manchester City)


Pemain Jerman berusia 21 tahun ini tidak menikmati awal karier yang mulus di Manchester City menyusul kepindahannya yang bernilai €50 juta dari Schalke pada musim panas 2016, dan beberapa pandit sepakbola di Inggris meragukan kemampuannya untuk mencapai level yang dibutuhkan untuk bersinar di Premier League.
Namun sejak itu Sane telah membuktikan bahwa mereka salah jika meragukannya, dengan semakin baik lagi di tahun 2017 ini, dan awal musim 2017/18 ini berjalan sensasional bagi pemain sayap muda ini. Salah satu alasan kesuksesannya sejauh ini adalah perubahan sistem permainan City – formasi 4-3-3 yang lebih stabil cocok untuk pemuda ini, dan kepercayaan dirinya pun terus tumbuh.
Sane mencetak enam gol dan memberikan enam asis dalam 13 penampilan Premier League pertamanya musim ini, dan ia juga tampil bagus di Liga Champions.Momen paling menonjol: Menciptakan peluang untuk gol John Stones dan Sergio Aguero dalam kemenangan 4-2 di Napoli adalah pencapaian yang mengesankan untuk seorang pemain yang selalu tampil lebih baik di pertandingan-pertandingan besar.
Ditulis olehMichael Yokhin
64. Naby Keita (RB Leipzig)


Performa pemain 22 tahun ini di sepanjang tahun 2017 ini sangat mengesankan. Meski ia terlalu banyak mendapatkan peringatan dari wasit dan juga kartu merah, yang membuat tempramennya banyak dipertanyakan, kualitas level tinggi yang diberikan Keita ke lini tengah RB Leipzig membuat semua aspek negatif tersebut bisa dimaafkan.
Seorang pendribel yang kuat yang bisa menjadi titik transisi permainan di lini tengah timnya, pemain Guinea yang jago mencetak gol dan memiliki umpan-umpan yang akurat ini adalah mesin lini tengah yang pasti diinginkan oleh setiap tim. Klub masa depannya, Liverpool, akan tak sabar untuk memilikinya.
Leipzig harus memanfaatkan enam bulan terakhir mereka bersama salah satu gelandang terkomplet di sepakbola ini. Dengan nominasinya – dan mungkin ia memang yang paling pantas – untuk gelar Pemain Terbaik Afrika Tahun Ini, tahun 2018 bagi Keita sepertinya akan semakin baik lagi.
Momen paling menonjol: Dalam musim debutnya di Eropa, performa Keita di Liga Champions sangat mengesankan. Ia dengan mudah mereplikasi performanya di liga – penampilannya dalam kemenangan 3-2 timnya di kandang melawan Porto benar-benar hebat.
Ditulis olehJonathan Harding
63. Dani Alves (Barcelona)


Alves memang tak sedominan seperti saat masih di Barcelona, tetapi ia tetaplah seorang juara Serie A dan finalis Liga Champions bersama Juventus pada tahun 2017 ini, sebelum menjalani babak terbaru dalam kariernya di PSG pada musim panas lalu.
Performa bagus dari bek kanan juniornya, Thomas Meunier, membuat pemain berusia 34 tahun ini sekarang bisa diistirahatkan tanpa timnya harus khawatir akan ada lubang yang besar ketika ia tak bermain.
Namun untuk pertandingan-pertandingan besar, Alves adalah salah satu nama pertama yang akan muncul di daftar pemain Unai Emery dan hubungan kuatnya dengan pemain Brasil lainnya di PSG – terutama dengan Neymar, tentu – membuatnya langsung menjadi sosok yang penting dan sangat dihormati di ruang ganti Parc des Princes.
Momen paling menonjol: Merebut gelar juara liga ketujuh dalam kariernya (dan yang pertama selain di Barcelona) bersama Juventus pada bulan Mei.
Ditulis olehJames Eastham
62. Jorginho (Napoli)
i

Sementara pemain-pemain seperti Lorenzo Insigne dan Dries Mertens mengisi tajuk utama media-media Italia, Jorginho adalah jantung permainan dari tim Napoli yang bermain begitu indah di Italia tahun ini.
Ketika Pep Guardiola mengatakan sebuah tim “mungkin adalah yang terbaik yang pernah saya hadapi di sepanjang karier saya”, orang-orang tentu akan memperhatikannya, dan bos Manchester City ini mungkin bisa melihat sekilas bayangan dirinya ketika masih aktif bermain dalam diri gelandang kelahiran Brasil ini.
Pemain berusia 25 tahun ini telah menciptakan lebih banyak umpan daripada pemain lainnya di lima liga top Eropa dalam dua musim terakhir, dan kembali memimpin daftar ini musim ini dengan 112 umpan per 90 menit. Jorginho terlihat terus menerus menemukan ruang dan waktu yang tidak bisa ditemukan pemain lain, dan memiliki visi untuk membelah pertahanan ketat khas tim-tim Italia.
Momen paling menonjol: Debut yang tertunda begitu lama bagi tim nasional Italia berakhir dengan kegagalan karena Azzurri kalah dari Swedia di babak play-off Piala Dunia mereka, tetapi mendengarkan Guardiola mengatakan “Jorginho benar-benar hebat” tentu saja menjadi momen lainnya yang begitu menonjol tahun ini.
Ditulis olehAdam Digby
61. Alvaro Morata (Chelsea)


Dalam waktu yang lama, Morata kelihatannya hampir pasti akan pindah ke Manchester United, tetapi transfer ini tak pernah terealisasi dan Real Madrid akhirnya menjual sang penyerang ke Chelsea. Sejauh ini, kepindahan ini belum benar-benar sukses.
Morata tak memiliki figur layaknya Diego Costa dan sepertinya tak akan pernah menjadi penyerang serba bisa yang juga seorang petarung yang bisa melakukan segalanya sendirian. Pemain Spanyol ini tentu saja merupakan seorang pemain yang sangat bagus – dan luar biasa di udara – tetapi memasuki musim dingin, permainannya pelan-pelan mengalami penurunan.
Tentu saja segalanya masih bisa berubah, tetapi ada keraguan apakah ia bisa benar-benar bisa diandalkan sebagai penyerang tunggal di timnya.
Momen paling menonjol: Sundulan ke gawang Manchester United di Stamford Bridge pada bulan November. Satu gol ini memang tidak membuatnya langsung dinilai sukses di Premier League, tetapi menunjukkan gaya khasnya di pertandingan sepenting ini terasa penting bagi awal kariernya.
Ditulis olehSeb Stafford-Bloor
60. Gareth Bale (Real Madrid)



Gareth Bale bisa menjadi senjata pemungkas bagi Real Madrid: satu-satunya masalah adalah bagaimana agar ia bisa terus turunkan ke lapangan. Rentetan cedera membuat pemain Wales ini hanya mampu mencatatkan 13 penampilan di La Liga tahun ini. Kondisi tersebut memunculkan rumor yang menyebutkan bahwa Madrid siap menjualnya.
Momentumnya terjadi di saat yang kurang tepat. Winger berjuluk ‘Cardiff Express’ ini menepi ketika Madrid mulai berbenah musim lalu. Momen simbolis terjadi kala Madrid menghadapi Barcelona pada bulan April tahun ini, saat Zidane memutuskan untuk menjadikannya starter padahal kondisinya masih belum 100 persen fit, hanya untuk melihatnya harus ditarik keluar di babak pertama.
Petaka tersebut kembali berlanjut musim ini dan, meski Bale sudah mulai diturunkan dalam ajang Copa del Rey pekan lalu, masalah kebugarannya masih menghantui. Ketika striker Madrid ini tak jua tampil apik, Zidane malah sedang sangat berharap ia bisa kembali ke performa terbaiknya.
Momen paling menonjol: Lesatan voli first-time yang menghujam gawang Dortmund pada September silam.
Ditulis oleh: Thore Haugstad
59. Ederson (Manchester City)



Tahun 2017 menjadi tahun pembuktian bagi Ederson. Tak butuh waktu lama bagi pemain yang pada musim panas 2016 belum banyak dikenal orang ini untuk menjelma menjadi salah satu penjaga gawang paling menjanjikan di dunia berkat rentetan performa apiknya saat berseragam Benfica.
Kiper asal Brasil ini membukukan 17 clean sheet di liga utama Portugal musim lalu (10 di antaranya terjadi di tahun 2017). Ia lalu dibajak oleh Manchester City dengan mahar €40 juta dan transfer ini membuatnya menjadi penjaga gawang termahal kedua sepanjang masa.
Pep Guardiola memerlukan kiper yang stabil nan konsisten serta cergas dan mampu berperan sebagai sweeper manakala dibutuhkan. Kiper kawakan asal Cile, Claudio Bravo, tampil mengecewakan sepanjang musim 2016/17, namun sejauh ini Ederson membuktikan bahwa dirinya sanggup menjalankan tugas tersebut sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai salah satu kiper unggulan di Premier League. Di usianya yang masih 24 tahun, ia masih bisa berkembang lebih jauh lagi.
Momen paling menonjol: Penyelematan penalti yang krusial dari pemain Napoli, Dries Mertens, dalam laga lanjutan Liga Champions – serta bahwa ia masih hidup setelah mendapatkan hantaman di udara dari Sadio Mane.
Ditulis oleh: Michael Yokhin
58. Dani Carvajal (Real Madrid)



Suporter Real Madrid telah lama menantikan sosok pemain lokal yang mampu menembus tim utama di era modern dan dalam diri Dani Carvajal mereka menemukan kombinasi sempurna antara talenta dan profesionalisme yang sesuai dengan karakteristik sosok pahlawan lokal tersebut.
Performanya di sisi kanan pertahanan Madrid senantiasa impresif, dan ia tak pernah membuat timnya kecewa di mana dirinya tak pernah mengecewakan klub asal ibu kota ini berkat kemampuannya dalam menunaikan kewajiban bertahan dan menyerang dengan sama baiknya. Tim nasional Spanyol juga ikut menikmati perkembangan Carvajal.
Selama satu musim ke belakang, kontribusinya untuk lini serangan Madrid sudah meningkat signifikan dan ini dikarenakan progres permainannya yang bahkan mengungguli Danilo dan memaksa pemain Brasil tersebut hengkang ke Manchester City musim panas lalu. Dan penampilannya di Liga Champions, khususnya di fase semifinal dan final, mengonfirmasi status Carvajal sebagai salah satu full-back terbaik di dunia.
Momen paling menonjol: Umpan fantastis pada laga final Liga Champions dan secara keseluruhan menampilkan karakter sebagai pemain komplet.
Ditulis oleh: David Cartlidge
57. Diego Godin (Athletico Madrid)



Era keemasan pemain Uruguay ini tentu terjadi di beberapa tahun pertama rezim Diego Simeone di Atletico Madrid, namun hingga kini pun bek tengah berusia 31 tersebut masih menjadi bagian penting skuat Los Colchoneros.
Meski jabatan kapten sekarang diemban Gabi, tapi Diego Godin tetap merupakan panutan di barisan pertahanan, dengan tinggi badannya yang cukup mengancam untuk duel udara serta kecepatan yang sanggup menutup ruang kosong manakala mereka diserang. Ketika Atleti tak diperkenankan mendatangkan pemain baru akibat larangan transfer, ada keyakinan yang dibebankan kepada bek gaek ini untuk menjaga reputasi klub hingga gagasan dan kreativitas strategi baru dicetuskan. Godin adalah representasi Atletico-nya Simeone.
Momen paling menonjol: Melampaui rekor penampilan terbanyak Luis Perea sebagai pemain asing bagi Atletico Madrid di La Liga (314).
Ditulis oleh: Simon Harrison ​
56. Joshua Kimmich (Bayern Munich)



Setelah di Euro 2016 dirinya membuktikan bahwa Jerman tak perlu mengkhawatirkan kepergian Philipp Lahm, Joshua Kimmich menjalani tahun berikutnya dengan lebih baik dan lebih baik lagi.
Di usia yang baru 22 tahun, Kimmich seolah tak tergantikan, di mana ia secara konsisten bermain 90 menit penuh bagi klub dan negaranya. Seiring stamina permainannya yang seolah tak pernah menurun, kepiawaiannya juga semakin terasah. Tiga asis saat bersua Mainz pada matchday ke-4 musim ini merupakan bukti kualitasnya, namun hal seperti itu sudah sering ia lakukan.
Sebagai salah satu talenta yang diklaim Joachim Löw merupakan yang terbaik dalam sedekade terakhir, Kimmich adalah contoh sempurna pesepak bola tahun 2017 – multi-talenta, profesional, dan berdeterminasi. Jika grafik positif ini terus terjaga, ia mungkin akan menyamai pencapaian Lahm dan menjadi salah satu pemain terbaik di planet ini (khususnya sebagai bek kanan).
Momen paling menonjol: Gol back-heel ciamik dalam kemenangan telak 5-0 melawan Freiburg pada matchday ke-8 yang terpilih menjadi gol terbaik bulan Oktober sekaligus menegaskan betapa ia telah menjadi pemain yang sangat lengkap.
Ditulis oleh: Jonathan Harding


55. Keylor Navas (Real Madrid)
image: 


Pembicaraan untuk mendatangkan kiper baru di Real Madrid tak pernah menguap, namun ketika melihat penampilan Keylor Navas di bawah mistar setiap pekannya, mengapa pembicaraan tersebut muncul harus dipertanyakan. Performanya bagi klub ini sejak ia bergabung dari Levante sungguh amat memukau dan setahun belakangan ini ia telah membuktikan bahwa dirinya layak mendapat tempat di tim ini.
Ketika orang-orang sibuk mengapresiasi talenta lini tengah dan para bomber Real Madrid, seharusnya kredit berlebih ditujukan kepada kiper Kosta Rika ini berkat konsistensi dan kapabilitasnya dalam menghasilkan penyelamatan kunci ketika dirinya beraksi. Untuk urusan ketangguhan fisik, tak banyak kiper yang unggul dalam hal ini, dan Navas begitu trengginas dalam bereaksi.Real Madrid sepertinya menginginkan penjaga gawang yang lebih ‘kekinian’, namun dalam diri Navas mereka sudah punya kiper yang berfungsi sempurna.
Momen paling menonjol: Penyelamatan gemilang yang penting pada Mei silam sehingga Real Madrid mengamankan tiga poin vital dalam perjalanan menuju tangga juara.
Ditulis oleh: David Cartlidge
54. Marek Hamsik (Napoli)



Saat ini ada ekspektasi yang mengangkasa manakala Hamsik mendapat bola pada sekitar sepertiga area lawan. Hal ini dikarenakan dirinya tinggal berjarak satu gol lagi untuk menyamai rekor gol sepanjang masa Diego Maradona dengan 115 gol untuk Napoli.
Playmaker 30 tahun yang kini menikmati periode dekade keduanya di Napoli ini memang tak memberikan dampak dalam permainan timnya sebesar dulu. Meski kerap menjadi starter, ia jarang menyelesaikan satu pertandingan penuh. Namun begitu, perannya dalam permainan penguasaan bola Napoli begitu krusial, lewat kontrol, jangkauan umpan, serta penetrasinya menuju gawang lawan yang membuatnya menjadi pemain yang rajin membantu serangan.
Sejarah kini ada di tangan Hamsik. Selain mempunyai peluang untuk memecahkan rekor Maradona, ia pun bisa menjadi kapten yang membawa Napoli merengkuh Scudetto sejak terakhir kali mereka meraihnya tahun 1990. Apapun yang terjadi selanjutnya, kecintaannya pada klub ini tak akan luntur. “Saya bisa saja mengakhiri karier saya di sini,” ujarnya berisyarat pada September lalu.
Momen paling menonjol: Sulit mencari momen yang lebih baik dari gol penyama kedudukannya ketika menjamu Juventus pada bulan April yang dipenuhi drama dan teknik. Memainkan umpan satu-dua dengan Dries Mertens, ia bermanuver ke luar kotak penalti sebelum meluncurkan bola melewati jangkauan Gianluigi Buffon dan menggemparkan seisi stadion San Paolo.
Ditulis oleh: Blair Newman
53. Leonardo Bonucci (AC Milan)



Tahun 2017 menjadi tahun yang maha kontras bagi Bonucci. Satu semester pertama diwarnai kesuksesan besar ketika ia memimpin Juventus meraih enam Scudetto beruntun dan melangkah hingga final Liga Champions. Ia adalah jantungnya ‘BBC’, sebuah trio yang juga berisikan Barzagli dan Chiellini yang disebut-sebut sebagai konstruksi pilar pertahanan terbaik di dunia.
Dan transfer mengejutkan itu terjadi. Keputusannya untuk pindah ke Milan yang musim lalu finis di klasemen ke-6 Serie A dan mengabaikan minat dari Manchester City membuat seantero publik sepak bola Italia mengernyitkan dahi. Kepindahannya terjadi seiring penurunan performanya yang drastis, di tim di mana ia dikelilingi oleh pemain-pemain minim pengalaman dan taktik yang membingungkan. Belum pernah Bonucci mengalami periode di mana ia begitu rentan melakukan kesalahan seperti sekarang ini.
Momen paling menonjol: Pemain 30 tahun ini merayakan kesuksesan titel pemungkasnya di Turin dengan mengalungkan medali emas ke leher putra bungsunya, Matteo, yang tengah mengidap penyakit serius.
Ditulis oleh: Blair Newman
52. Miralem Pjanic (Juventus)



Ungkapan “Jika Anda tak mampu mengalahkan mereka, begabunglah dengan mereka” seolah menjadi pola pikir pemain Bosnia ini pada musim panas 2016 lalu. Bahwa sang pemain memaksakan kepindahan dengan harga relatif murah, hanya €32 juta, menjadi dampak yang harus dirasakan Roma setelah gagal menjatuhkan sang Raksasa Turin itu dari singgasana Serie A, dan Pjanic pun setelahnya berbalik membantu Bianconeri untuk terus mempertahankan kekuasaan mereka di sepakbola Italia.
Untuk sebuah tim yang telah kehilangan pemain macam Paul Pogba, Arturo Vidal, dan Andrea Pirlo dalam beberapa tahun ke belakang, Pjanic cocok mengisi posisi mereka. Ia menyuntikkan kreativitas dan gaya permainan ke lini tengah Juve yang minim kedua atribut tersebut, lengkap dengan delapan gol dan 12 asis di semua kompetisi. Kemampuannya mengeksekusi bola mati juga merupakan sebuah bonus – kaki kanannya punya akurasi mematikan sepanjang musim tersebut.
Momen paling menonjol: Menjadi bagian dari tim yang mengangkat piala Serie A dan Coppa Italaia, Pjanic pada akhirnya merasakan nikmat menggenggam trofi setelah selama bertahun-tahun harus puas menjadi runner-up.
Ditulis oleh: Adam Digby
51. Timo Werner (RB Leipzig)



Timo Werner masih berumur 21 tahun, namun bomber RB Leipzig ini telah menjadi pilihan utama Jerman sebagai ujung tombak mereka di Rusia setelah ia menjalani 12 bulan perdana yang mengagumkan bersama klub runner-up Bundesliga tersebut musim lalu.
Setelah bergabung dari Stuttgart menjelang bergulirnya musim 2016/17, tak banyak yang memprediksi kalau Werner bakal mencetak gol dengan frekuensi yang mencengangkan. Ia menceploskan 12 gol dari 21 penampilannya di semua ajang musim lalu dan musim ini, ia sudah mencatatkan tujuh gol di Bundesliga. Hal yang sama terjadi di Liga Champions seiring keberhasilan Leipzig untuk pertama kalinya melaju hingga ke fase gugur turnamen ini.
Mengingat kemampuan mencetak golnya yang eksplosif, tak mengherankan jika ia dikaitkan dengan Bayern Muenchen. Jika striker belia ini mampu menjaga performa apik seperti tahun lalu, maka kemungkinan hanya ada satu destinasi klubnya usai Piala Dunia 2018 nanti.
Momen paling menonjol: Tiga gol dalam Turnamen Konfederasi 2017 saat membela Jerman yang membuatnya dianugerahi Sepatu Emas di Rusia.
Ditulis oleh: Russell Smith

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stadion Terbesar Di Indonesia

Stadion Utama Gelora Bung Karno (Jakarta) Sejak Bung Karno, presiden pertama Indonesia, memancangkan tiang pertama dalam pembangunan stad...